

Penjaga Istana Deoksu & Keluargaku


Sebelum bertolak ke Jakarta menteri Marie Elka Pangestu juga mengadakan pertemuan bisnis dengan beberapa pengusaha Korea. Dalam pertemuan itu juga cukup banyak hal yang dibicarakan termasuk peningkatan perdagangan dalam sektor militer, pertambangan, dll. Dan ada juga permintaan agar sistem pengurusan perizinan lebih disederhanakan agar waktunya lebih singkat.
n Ultah-nya yang ke.....(rahasia !).



Lahan Korea Selatan yang sangat sempit ternyata tidak serta merta membuat masyarakatnya kekurangan ruang terbuka nan hijau untuk menikmati waktu senggang bersama keluarga atau kekasih.
Indonesia juga tidak kalah. Indonesia puluhan tahun sebelumnya sudah punya istora Senayan. Stadion kebanggaan bangsa Indonesia yang sudah menjadi tempat penyelenggaraan berbagai kegiatan olahraga internasional, tingkat Asia.
Masih disekitar komplek stadion, ada taman yang sangat luas sekali yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menikmati waktu senggang. Berjalan-jalan, menikmati pemandangan air mancur atau bermain dengan anggota keluarga lainnya. Apabila merasa lapar tidak, kita dapat membeli makanan di pasar tradisonal atau sebuah toserba yang berukuran besar sekali yang masih menyatu dengan bangunan stadion. Pokoke...disini lengkap.
Pada tanggal 8 Juli 2009 Indonesia mengadakan pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden. Masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri termasuk yang ada di Korea Selatan juga tidak ketinggalan dalam mengikuti pesta yang sangat menentukan masa depan negara Indonesia itu. Menurut PPLN Seoul jumlah pemilih (masyarakat Indonesia) yang terdaftar adalah sebanyak 26.082 orang. Pemilihan dapat dilakukan di empat TPS yang terdapat di KBRI Seoul, kota Daegu, Ansan dan Busan. Namun sangat disayangkan jumlah pemilih yang mendatangi TPS-TPS tersebut pada hari pemilihan tidak sampai 5% dari jumlah yang terdaftar, padahal Mahkamah Konstitusi sudah mengeluarkan peraturan yang mengizinkan warga Indonesia di luar negeri untuk memilih dengan menunjukan paspor yang masih berlaku. Ya, rendahnya jumlah pemilih yang datang ke TPS mungkin disebabkan oleh saat itu tidak merupakan hari nasional di Korea Selatan. 


Festival Hi Seoul 2009 dibuka pada tanggal 2 Mei dengan beberapa kegiatan seperti parade dan pertunjukan panggung. Walaupun pada saat pembukaan cuaca agak mendung namun antusiasme para pengunjung cukup besar.
Upacara Hi Seoul Festival tahun ini juga di warnai dengan unjuk rasa, sehingga upacara pembukaan yang dipusatkan di depan Balai Kota Seoul menjadi sangat terganggu.
Selama pelaksanaan Hi Seoul Festival yang berlangsung hingga 10 Mei, masyarakat atau para wisatawan di sajikan beberapa kegiatan yang diadakan diberbagai tempat seperti istana, museum, taman dll. Lewat kegiatan yang diadakan pengunjung dapat menikmati hiburan, masakan atau kebudayaan tradisional Korea. 
Di aliran Chonggyechon pengunjung dapat menikmati beberapa pertunjukkan musik, patung, photo dan benda-benda yang digunakan sekitar tahun 70-an. Disini panitia Hi Seoul Festival juga membagikan pita warna pink dimana pengunjung dapat menuliskan keinginan, harapan, kesan dan lainnya di atas pita itu, kemudian menggantungkannya di pagar sekeliling aliran itu.
cukup diminati pengunjung, terutama mereka-mereka yang pernah tinggal di Indonesia. 
Salah satu cara untuk mengenal kebudayaan suatu negara adalah dengan cara menikmati makanannya. Makanya sudah menjadi suatu "keharusan", untuk mencicipi masakan khas negara itu, apabila kita sedang mengunjungi satu negara. Seperti halnya sate, nasi goreng dan rendang, gado-gado dll, yang sudah cukup terkenal di Indonesia, maka Korea juga memiliki makanan khas yang namanya sudah cukup dikenal masyarakat dunia, diantaranya kimchi, bibimbab, jajangmyeon, cukumi, samgetang dan lainnya.
Terlepas dari perbedaan rasa ini, yang jelas pemerintah dan warga Korea sangat merasa bangga dengan jenis-jenis makanan yang mereka miliki, sampai-sampai mempromosikannya ke tingkat dunia.