Sunday, March 9, 2008

Aku, keluargaku dan Istana Deoksu

Selain terkenal sebagai negara Gingsen (Insam), Korea Selatan juga terkenal dengan kekayaan warisan budaya, termasuk bangunan-bangunan kuno seperti istana raja. Nah, di daerah pusat Seoul, tepatnya diseberang gedung Balai Kota Seoul, terdapat sebuah istana yang dinamakan Deoksu-gung. Nama Deoksu sendiri diberikan oleh raja Sunjon.

Istana ini dibangun pada pertengahan abad ke-15. Walaupun ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan istana-istana yang lain, istana Deoksu cukup ramai dikunjungi orang karena memiliki pemandangan yang cukup indah. Maka tidak aneh... kalau banyak pengantin baru yang sengaja membuat gambar pengantin mereka di sekitar istana ini.

Selain dapat menikmati keindahan bangunan-bangunan kuno yang terdapat di dalam lingkungan istana, pengunjung juga dapat menikmati acara pergantian penjaga pintu utama istana (Daehanmun) yang dilakukan setiap hari kecuali hari Senin. Pergantian penjaga pintu utama istana biasanya dilakukan pada pukul 14.00-15.30 - (Juli-Agustus; 15.00-16.30)





Thursday, March 6, 2008

Aku dan Festival Seoul

Apakah anda punya niat mau berkunjung ke Seoul ?? Kalau jawabannya Ya ! Saya sarankan agar anda datang sekitar bulan Mei. Emang... ada apa pada bulan itu?? Nah..pada bulan Mei pemerintah daerah Seoul biasanya menyelenggarakan cukup banyak festival. Ada festival yang bersifat lokal, nasional bahkan internasional. Festival-festival tersebut pada dasarnya diselenggarakan untuk menarik wisatawan manca negara. Disamping itu pada bulan Mei suhu udaranya sudah tidak begitu dingin dan bunga-bungaanpun sudah mulai mekar...
Untuk festival Hi Seoul tahun 2007, Indonesia, khususnya Dinas Pariwisata DKI Jakarta, juga ikut serta lho...Pada waktu itu kelompok tari yang mewakili DKI tersebut menampilkan beberapa tarian yang sudah dimodernisasi (istilah ini benar nggaak sih). Tentang sambutan penonton.....ya lumayanlah. Tapi...kenapa ya....tidak menghadirkan tari tradisional, yang so pasti akan mendapat sambutan hangat. Saya bisa bilang begitu, karena Cina, Thailand dan Mesir (kalau nggak salah) yang saat itu mempertunjukkan tarian tradisional mereka sangat mendapat sambutan yang meriah dari para penonton. Kalau seandainya mau ikut lagi...apa lagi tahun ini kalau tidak salah, dicanangkan sebagai Tahun Kunjungan Indonesia (benarkan ?? kalau salah maaf-in ya), saya sarankan agar menghadirkan tarian tradisional seperti dari Bali, Jawa dll. Nah... dari Irian Jaya...itu pasti memikat....
Yang jelas...selain dapat menikmati festival anda juga dapat menikmati pemandangan alam kota Seoul, khususnya di taman-taman yang dihiasi dengan bunga yang berwarna-warni. Pasti asyikkk deh....
Dan untuk sekedar info...bagi yang mau jalan-jalan ke Seoul. Festival Seoul tahun 2008 akan berlangsung dari tanggal 4-11 Mei. Pembukaannya pada tanggal 4 Mei dipusatkan di Seoul Plaza depan kantor Balai Kota Seoul. Pada hari yang sama ada Street Festival (sejenis karnaval) yang diawali dari Jangmyo Royal Shrine-Jongno-dan berakhir di Seoul Plaza. Festival juga akan diadakan di Istana Gyeongbok, Deoksu, Gyenghui, Changgyeong dan di Cheonggye-cheon (sejenis aliran sungai yang sudah direstorasi menjadi tempat wisata).

Infonya cukup segitu aja dulu yah...






Aku dan Kegiatan Naik Bukit

Apakah anda punya hobbi naik gunung ??? Di Korea naik gunung atau bukit kali ya...karena memang tidak terlalu tinggi, naik gunung merupakan kegiatan yang banyak dilakukan orang, baik kawula muda maupun lansia. Nah...tidak jarang ketika naik kereta atau bus khususnya pada hari libur, kita akan menemukan sekelompok orang yang akan melakukan pendakian. Namun ada juga yang melakukan pendakian sendiri-sendiri.

Mereka melakukan kegiatan tersebut hanya untuk satu alasan hidup "sehat". Masyarakat Korea dikenal sangat peduli dengan kesehatan. Masyarakat Indonesia juga tentunya sama, cuma fasilitasnya kurang lengkap kali ya...????? Apa malessss....
Nah...disini diatas bukit sekalipun kita dapat menemukan fasilitas olah raga yang cukup lengkap. Percaya nggak sih ??? Percaya donk..karena saya sudah melihatnya sendiri...
Kondisi wilayah Korea Selatan yang berbukit-bukit juga merupakan faktor yang mendukung hingga banyak orang yang menyukai kegiatan ini. Disamping itu...tingkat keamanan yang cukup terjamin, juga membuat orang merasa nyaman ketika melakukan pendakian. Bayangkan pada sore hari, ketika matahari sudah hampir tenggelam orang masih berani naik, tidak terkecuali gadis-gadis. Bagaimana kalau ditempat anda ?? Anda kira-kira berani nggak ??? Tentunya, nggak janji deh....
Kegiatan naik bukit biasanya paling banyak dilakukan pada saat musim gugur dan musim bunga. Pada musim dingin bagaimana ??? Ada juga tuh yang berani...tapi tidak pada saat salju turun ....
Pada saat musim gugur kita akan dapat menikmati pemandangan disaat-saat dedaunan yang telah berubah warna berguguran ditiup angin dan pada musim bunga..ya..tentunya kita menikmati mekarnya berbagai jenis bunga seperti bunga cherry, azalea, jinhae dan juga mehwa dengan warna-warni yang mempesona.

Namun sayangnya...kegiatan naik bukit ini, kadang-kadang juga memiliki efek yang buruk. Mau tahu nggak ??? Ada sebagian orang, biasa ajosse dan ajumma yang kalau udah selesai naik gunung, kemudian kumpul-kumpul lalu minum soju, ya...minuman keras khas Korea. Jadi dimana yahh nilai kesehatannya ???? Hehhee....

Wednesday, March 5, 2008

Aku dan Bang Pane

Bang Pane...tulisan itu tergantung didepan sebuah bangunan didekat SMU Wanita di dekat daerah Jongno, Seoul. Saya sangat kaget ketika membaca tulisan itu. Hah... toko Bang Pane ada disini ??? Kemudian saya menunjukkan tulisan itu kepada keluarga dan teman-teman warga Korea. Mereka juga cukup kaget membaca tulisan itu. Salah seorang teman, Park Chong, nyeletuk..wah Bang Pane kaya..yaa, punya toko di Korea....Kami semua tertawa...Namun tidak lama kemudian seorang teman yang lainnya, Choi Sin-young menjelaskan. "Sebenarnya Bang Pane itu, kalau di Korea diartikan Toko Roti". Sekali lagi kami semua tertawa terbahak-bahak....
Itulah kuasa Tuhan yang memberikan kekayaan budaya dan bahasa yang beraneka ragam bagi kita ummat manusia. Nama yang menurut bahasa kita bagus ternyata bagi bahasa orang lain artinya sangat berbeda....Kalau begitu nama anda dalam bahasa Korea artinya apa ya....????









Tuesday, March 4, 2008

Aku dan Ikan Bakar



Anda doyan ikan bakar (Saengsun-gui) ??? Saya doyan...Nah ternyata di Korea, ikan bakar termasuk makanan yang cukup digemari. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya restoran-restoran yang menyediakan ikan bakar dalam daftar menunya. Bahkan ada restoran yang khusus menyediakan ikan bakar.

Untuk daerah Seoul, restoran seperti ini dapat dengan mudah kita temui di daerah Dongdaemun. Tepatnya disebuah jalan kecil yang berada di belakang gedung Bank Industri Korea, Dongdaemun.

Sekedar informasi...didaerah ini ada banyak restoran yang menyediakan ikan bakar, jadi anda bisa memilih. Disini anda akan melihat beberapa restoran yang memajang spanduk atau menempelkan sejenis pemberitahuan bahwa mereka pernah diwawancari oleh salah stasiun televisi di Korea. Nah...biasanya restoran seperti ini makanannya enak...jadi boleh anda coba.

Saengsun-gui, atau ikan bakar di Korea agak sedikit berbeda dengan di Indonesia (dari segi rasanya lho). Hal ini mungkin karena ikan disini tidak dibakar dengan batok kelapa atau arang (karena nggak ada kali yee). Nah..disini ikan dibakar dengan batubara, atau didalam open (yang ini juga kadang mereka sebut ikan bakar).


Cara bakarnya cukup mudah dan bumbunya cukup sederhana. Pertama, ikan mentah di garami, kemudian dibakar...dan kalau sudah matang dimakan dengan kecap asin yang dicampur bumbu wasabi, sejenis lobak yang pedas yang telah dihaluskan. Gampangkan...ya rasanya juga...begitu deh .....

Masalah harga....tidak terlalu mahal. Untuk jenis ikan samji (kurang tau...tuh namanya di Indonesia, tapi tampangnya mirip tongkol kali ya..), jika anda makan disalah satu restoran di daerah Dongdaemun itu...ya lebih-kurang 5000 won (sekitar Rp 50.000...sebelum harga minyak naik ???). Tentunya untuk jenis ikan yang lebih enak..seperti kerapu, atau cumi...ya lebih mahal... Dan kalau anda makan direstoran yang agak bergengsi, ya...pasti lebih mahal lagi, tapi harus diingat direstoran seperti ini biasanya ikannya tidak dibakar, tapi di masak didalam open. Nggak salah donk untuk mencobanya kalau lagi ke Seoul...benarkan ????

Monday, March 3, 2008

Aku dan Norebang




Anda pernah mendengar kata Norebang ? Norebang terdiri dari dua kata yaitu nore dan bang. Nore artinya lagu/menyanyi sementara bang artinya ruang/tempat. Jadi kalau digabung Norebang artinya tempat untuk bernyanyi. Kalau di Indonesia biasa kita sebut tempat karaoke.

Seperti halnya Karaoke dikota-kota besar di Indonesia, Norebang di Korea juga merupakan tempat yang cukup favorit untuk dikunjungi baik oleh anak-anak muda maupun orang-orangtua terutama pada malam minggu atau hari libur.

Norebang sendiri terbagi dua, satu tidak menyediakan minuman keras, dan yang satunya (dallajujom) menyediakan minuman keras.

Seperti kebanyakan tempat karaoke, norebang juga disewakan perjam. Harganya bervariasi mulai yang paling sederhana sekitar 20.000 won perjam (Rp 200.000) sampai ratusan ribu won. Ada juga lho Norebang-plus (plus.....pasti tahu donk maksud saya heee)

Nah..sejalan dengan semakin banyaknya warga Indonesia di Korea Selatan (diperkirakan lebih dari 26 ribu orang), maka norebang yang menyediakan lagu-lagu Indonesia juga cukup banyak. Norebang yang menyediakan lagu-lagu Indonesia dapat kita temui di daerah Ansan, Suwon, Guro, Sinchon dan beberapa daerah lainnya dimana banyak terdapat TKI.

Sebenarnya lag-lagu Indonesia yang disediakan sudah cukup Out of Date (kuno gitulohhh), namun untuk menyalurkan hobbi sekaligus menghibur diri setelah lelah bekerja, lagu-lagu seperti itupun di lalap juga. Yang menarik lagi, diantara lagu-lagu tersebut ada juga Lagu Kebangsaan Kita, Indonesia Raya. Seorang teman saya, dengan rasa nasionalisme yang tinggi biasanya selalu meminta kami untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan semuanya harus berdiri. Kebayang nggak sih, kalau anda menyanyikan lagu Indonesia Raya di dalam karaoke....


Sunday, March 2, 2008

Aku dan Festival Film Indonesia




Kedutaan besar Indonesia untuk Korea Selatan, mungkin adalah salah satu KBRI yang cukup aktif dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia, termasuk film produksi dalam negeri.


Pada semester kedua tahun 2007 KBRI, Seoul menyelenggarakan festival film Indonesia yang menghadirkan film-film karya anak bangsa, seperti Dunia Sudah Kiamat, Heart dan ada satu lagi yang judulnya saya sudah lupa. Tapi kalau ngggak salah tema ceritanya tentang poligami.


Festival yang di buka oleh Dubes (pada saat itu) Jacob Tobing cukup menarik minat penonton terutama orang Indonesia (ya..sudah pasti donk..) dan orang-orang yang pernah belajar tentang Indonesia.


Film yang cukup banyak menarik perhatian adalah film tentang poligami itu...lho...


Lumayan banyak juga orang yang ingin tahu tentang kebenaran isi ceritanya kepada saya....


Karena didalam film tersebut (tentunya tidak untuk menyudutkan suatu kelompok agama) jelas-jelas digambarkan bahwa ada agama tertentu yang memperbolehkan poligami.


Seorang teman dengan rasa ingin tahu yang tinggi bertanya " Apa benar di agama anda boleh seperti itu ?"


Saya jawab "Boleh saja tapi tidak semudah yang digambarkan di film tersebut. Ada banyak persyaratannya, istri pertama mengijinkan, ekonominya mampu, dapat berbuat adil dsb..."


"Yang paling penting adalah, hal itu untuk menghidari Zina, jadi tidak istri satu tapi jajannya banyak".


Dan teman itu cukup mengerti dengan penjelasan saya...




Ketika saya tanyakan kepada Dubes, apakah pelaksanaan festival tersebut juga dimaksudkan mengantisipasi semakin banyaknya sinetron Korea yang masuk ke Indonesia ? Bapak Jacob Tobing dengan bijaksana mengatakan bukan untuk mengantisipasi tapi untuk lebih memperkenalkan budaya Indonesia kepada masayarakat Korea sekaligus merangsang sutradara-sutradara dalam negeri untuk memproduksi film yang bermutu, agar dapat menerobos pasar perfilman internasional.


Mungkin kita semua setuju untuk mengatakan bahwa kualitas film produksi dalam negeri akhir-akhir ini cukup menurun. Sehingga jangankan untuk pasar luar negeri, pasar dalam negeri saja sulit untuk ditembus.


Mudah-mudah keinginan kita, agar perfilman Indonesia bisa bangkit kembali seperti halnya di tahun 80an dapat terwujud. Amin...!!!